
Dunia akademik Indonesia sedang mengalami transformasi signifikan, terutama dalam hal publikasi ilmiah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terus memperbarui regulasi untuk meningkatkan kualitas riset nasional agar mampu bersaing di kancah global. Salah satu fokus utama pembaruan ini terletak pada sistem akreditasi jurnal nasional atau yang kita kenal dengan SINTA (Science and Technology Index). Bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana, memahami dinamika ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan mendesak.
Perubahan regulasi ini membawa angin segar sekaligus badai baru. Di satu sisi, ketatnya aturan menjamin bahwa hanya karya berkualitas tinggi yang terbit, sehingga meningkatkan reputasi ilmuwan Indonesia. Namun, di sisi lain, perubahan ini menciptakan tembok tinggi bagi penulis yang belum siap beradaptasi. Tingkat penolakan naskah meningkat drastis di berbagai jurnal, mulai dari peringkat SINTA 6 hingga SINTA 1. Editor jurnal kini bekerja dengan parameter yang jauh lebih rigit daripada tahun-tahun sebelumnya.
Anda mungkin bertanya-tanya, apa saja sebenarnya poin krusial yang berubah? Mengapa naskah yang dulu mudah diterima kini harus melalui revisi berkali-kali atau bahkan langsung ditolak di meja redaksi? Artikel ini akan mengupas tuntas transformasi tersebut. Kami menyajikan analisis mendalam mengenai regulasi baru, dampaknya terhadap proses penulisan, serta strategi konkret yang dapat Anda terapkan segera. Mari kita bedah bersama agar jalan Anda menuju publikasi ilmiah kembali terbuka lebar.
Memahami Transformasi pada Standar Akreditasi Jurnal SINTA
Pembaruan regulasi saat ini menuntut pengelola jurnal untuk menerapkan standar akreditasi jurnal SINTA yang jauh lebih komprehensif dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah tidak lagi hanya melihat aspek administratif semata, seperti ketepatan waktu terbit atau kelengkapan dewan redaksi. Fokus penilaian kini bergeser tajam ke arah substansi artikel dan dampak sitasi yang dihasilkan. Sistem ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional) kini memiliki algoritma penilaian yang mendeteksi kualitas manajemen dan penyuntingan secara lebih detail. Hal ini memaksa pengelola jurnal untuk tidak main-main dalam meloloskan sebuah naskah.
Aspek manajemen referensi menjadi sorotan utama dalam standar akreditasi jurnal SINTA yang baru. Jurnal kini mewajibkan penulis untuk menggunakan persentase referensi primer (jurnal ilmiah) yang sangat tinggi, seringkali di atas 80% dari total daftar pustaka, dengan kemutakhiran 5 hingga 10 tahun terakhir. Pengelola jurnal akan kehilangan poin akreditasi secara signifikan jika menerbitkan artikel yang mayoritas referensinya berasal dari buku tua atau blog yang tidak valid. Penulis harus menyadari bahwa daftar pustaka bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama yang menentukan nasib akreditasi jurnal tempat mereka bernaung.
Selain itu, keberagaman penulis juga menjadi indikator vital dalam standar akreditasi jurnal SINTA teranyar. Sebuah jurnal akan sulit naik peringkat jika penulisnya hanya berasal dari satu institusi yang sama dengan penerbit (in-breeding). Oleh karena itu, jurnal berlomba-lomba mencari penulis dari berbagai afiliasi, bahkan dari luar negeri, untuk memenuhi kriteria internasionalisasi. Bagi penulis lokal, ini berarti persaingan semakin ketat karena Anda harus bersaing dengan naskah-naskah dari penulis lintas institusi dan lintas negara yang membidik jurnal sasaran yang sama dengan Anda.
Peningkatan Ketat pada Proses Review dan Substansi Artikel
Transformasi regulasi ini berdampak langsung pada mekanisme dapur redaksi, di mana proses peninjauan sejawat (peer review) kini berjalan jauh lebih sadis dan mendetail. Editor jurnal tidak lagi segan melakukan desk rejection atau penolakan langsung tanpa proses review jika naskah tidak memenuhi kriteria dasar kebaruan (novelty). Dulu, naskah dengan metode penelitian standar mungkin masih bisa lolos. Sekarang, reviewer menuntut penulis untuk menunjukkan kesenjangan penelitian (research gap) yang eksplisit dan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Tanpa elemen ini, naskah Anda hanya akan dianggap sebagai pengulangan dari riset terdahulu.
Konsistensi gaya selingkung dan kualitas bahasa juga menjadi saringan yang sangat rapat dalam proses seleksi artikel saat ini. Reviewer akan memeriksa struktur logika paragraf, koherensi antar bab, hingga penggunaan tata bahasa yang baku dan efektif. Banyak penulis gagal bukan karena datanya salah, melainkan karena cara penyajiannya yang membingungkan dan tidak mengikuti kaidah ilmiah. Jurnal-jurnal yang mengejar target peningkatan peringkat sangat menjaga kualitas ini, karena satu artikel buruk dapat merusak penilaian keseluruhan jurnal di mata asesor akreditasi nasional.
Lebih jauh lagi, etika publikasi kini mendapat porsi pengawasan yang sangat ketat melalui penggunaan perangkat lunak anti-plagiasi yang canggih. Batas toleransi kemiripan (similarity index) semakin kecil, rata-rata di bawah 20% atau bahkan 15% untuk jurnal peringkat atas. Penulis harus benar-benar melakukan parafrase yang baik dan menghindari self-plagiarism. Editor akan memeriksa setiap indikasi fabrikasi atau falsifikasi data. Integritas riset menjadi harga mati, dan penulis yang terbukti melanggar etika ini akan masuk dalam daftar hitam, menutup peluang mereka untuk mempublikasikan karya di masa depan.
Tantangan Utama Penulis Menghadapi Standar Akreditasi Jurnal SINTA
Standar akreditasi jurnal SINTA yang semakin ketat menghadirkan tantangan serius bagi penulis akademik di Indonesia. Proses seleksi tidak hanya menilai substansi ilmiah, tetapi juga mencakup aspek teknis, etika publikasi, dan kualitas bahasa. Kondisi ini menuntut penulis untuk lebih siap, sabar, dan profesional dalam menghadapi mekanisme editorial jurnal terakreditasi.
Tantangan utama yang dihadapi penulis dalam memenuhi standar akreditasi jurnal SINTA meliputi:
- Waktu tunggu publikasi yang panjang dan tidak pasti
Proses penyaringan berlapis dari editor dan mitra bestari menyebabkan durasi submisi hingga keputusan penerimaan bisa memakan waktu berbulan-bulan. - Tekanan kebutuhan luaran akademik yang cepat
Dosen membutuhkan publikasi untuk pemenuhan BKD, sementara mahasiswa terikat batas waktu kelulusan. - Kewajiban penggunaan reference manager
Sitasi manual dianggap tidak profesional dan sering menjadi alasan penolakan naskah pada tahap awal seleksi. - Tuntutan kerapian metadata dan kelengkapan data
Penulis wajib menyajikan metadata yang konsisten serta siap menyediakan data mentah untuk keperluan verifikasi reviewer. - Standar bahasa yang tinggi, khususnya pada jurnal SINTA 1 dan 2
Naskah atau abstrak berbahasa Inggris harus ditulis dengan kualitas akademik yang baik dan mudah dipahami audiens global. - Kesulitan menerjemahkan istilah teknis secara tepat
Ketidaktepatan terjemahan dapat mengaburkan makna ilmiah dan menurunkan kualitas naskah. - Biaya tambahan untuk proofreading profesional
Layanan penyuntingan bahasa menjadi beban finansial tersendiri bagi sebagian penulis.
Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa publikasi di jurnal SINTA menuntut kesiapan akademik dan teknis yang menyeluruh.
Strategi Jitu Meningkatkan Kualitas Naskah Agar Lolos Seleksi
Meningkatkan kualitas naskah ilmiah agar lolos seleksi jurnal tidak dapat dilakukan secara instan pada tahap penulisan akhir semata. Strategi yang efektif harus dimulai sejak perencanaan penelitian, mencakup penguatan landasan teori, ketajaman analisis, hingga kerapian naskah sebelum disubmisi. Editor dan reviewer menilai naskah secara holistik, mulai dari kebaruan ide hingga profesionalisme penulis dalam menyajikan hasil penelitian.
Strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas naskah adalah sebagai berikut:
- Melakukan pemetaan literatur secara mendalam sejak awal
Telaah puluhan artikel terbaru dari jurnal bereputasi untuk menemukan state of the art yang jelas. - Merumuskan pertanyaan penelitian yang tajam dan unik
Pertanyaan yang kuat menunjukkan kebaruan dan langsung menarik perhatian editor sejak bagian pendahuluan. - Menunjukkan kontribusi ilmiah secara eksplisit
Jelaskan dengan tegas posisi penelitian Anda dibandingkan penelitian sebelumnya. - Menyajikan data disertai interpretasi yang mendalam
Jangan hanya menampilkan tabel atau grafik, tetapi jelaskan makna dan implikasi temuan penelitian. - Mengaitkan hasil penelitian dengan teori dan studi terdahulu
Pembahasan harus bersifat analitis, komparatif, dan argumentatif. - Berani membangun argumen ilmiah yang logis
Reviewer menilai kekuatan nalar dan kedalaman analisis, bukan sekadar kelengkapan data. - Melakukan self-review sebelum submisi
Periksa ulang struktur naskah, konsistensi sitasi, dan kejelasan alur logika. - Meminta masukan dari rekan sejawat
Kritik objektif dari kolega membantu mendeteksi kelemahan yang luput dari penulis. - Memastikan kerapian bahasa dan teknis penulisan
Naskah yang rapi dan minim kesalahan menunjukkan profesionalisme dan menghargai waktu editor.
Penerapan strategi ini secara konsisten akan meningkatkan peluang naskah untuk lolos ke tahap review dan diterima jurnal.
Adaptasi Jangka Panjang Terhadap Standar Akreditasi Jurnal SINTA
Penulis yang cerdas tidak hanya berpikir untuk lolos satu kali, melainkan membangun kebiasaan yang selaras dengan standar akreditasi jurnal SINTA untuk jangka panjang. Adaptasi ini meliputi perubahan pola pikir dari sekadar “gugur kewajiban” menjadi “membangun rekam jejak akademik”. Anda perlu mulai membangun jejaring kolaborasi riset dengan peneliti dari institusi lain atau bahkan luar negeri. Kolaborasi lintas afiliasi ini sangat disukai oleh jurnal karena dinilai mampu meningkatkan diversitas pandangan dan memperluas dampak sitasi artikel di kemudian hari.
Selain kolaborasi, konsistensi pada peta jalan penelitian (roadmap) menjadi kunci penting dalam menaklukkan standar akreditasi jurnal SINTA. Penulis yang fokus pada satu bidang spesifik akan lebih mudah dikenali kepakarannya oleh editor jurnal. Ketika nama Anda sudah identik dengan topik tertentu, editor cenderung lebih percaya pada kualitas naskah yang Anda kirimkan. Hindari melompat-lompat topik riset secara drastis hanya karena mengikuti tren sesaat, karena hal ini justru menunjukkan ketidakmatangan identitas akademik Anda di mata penilai atau reviewer jurnal.
Terakhir, penulis harus terus memperbarui pengetahuannya tentang etika publikasi dan perangkat pendukung riset yang terus berkembang dalam ekosistem standar akreditasi jurnal SINTA. Mengikuti lokakarya penulisan, coaching clinic, atau webinar bedah jurnal harus menjadi agenda rutin. Dunia publikasi ilmiah sangat dinamis; aturan yang berlaku hari ini bisa jadi usang tahun depan. Dengan terus belajar dan beradaptasi, Anda tidak hanya akan bertahan menghadapi seleksi ketat, tetapi juga mampu menjadi penulis produktif yang karyanya selalu dinanti oleh jurnal-jurnal bereputasi tinggi di Indonesia.
Kesimpulan
Perubahan regulasi akreditasi jurnal nasional bukanlah penghalang, melainkan pemicu untuk meningkatkan kualitas diri dan karya ilmiah. Meskipun proses seleksi menjadi lebih ketat dan menantang, hal ini sejatinya bertujuan untuk menempatkan riset Indonesia pada posisi yang terhormat. Penulis harus segera beradaptasi dengan mengubah orientasi dari kuantitas menuju kualitas, serta memanfaatkan teknologi pendukung penulisan secara maksimal.
Butuh Pendampingan Publikasi Jurnal SINTA Terakreditasi? Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis dan strategi publikasi yang tepat sesuai regulasi terbaru. Seluruh layanan dikelola secara profesional dan transparan sesuai standar yang diterapkan di Software Mahasiswa.
Baca juga: Alasan Artikel Jurnal Sering Ditolak Meski Sudah Lengkap

